Saat ini kebutuhan teknologi deseshikan dengan kondisi yang terjadi. Saatnya masalah utama di belahan dunia adalah krisis air beraih sebagai dampak dari pemanasan global dan perubahan iklim. Kebutuhan air yang semakin meningkat akibat bertambahnya jumlah penduduk di satu sisi dan semakin berkurangnya ketersediaan sumber air tawar mendorong para ahli bekerja keras untuk mengatasi masalah ini.
Meningkatnya populasi penduduk dunia akan meningkatkan eksploitasi sumberdaya alam, diantaranya untuk pemenuhan bahan pangan. Produk perikanan berpotensi menjadi sumber bahan pangan karena memiliki nilai protein tinggi, micronutrient penting untuk kesehatan manusia. Menurunnya hasil perikanan tangkap akibat overfishing dan pembatasan
tangkapan lestari mengkondisikan sektor
perikanan budidaya tumbuh agresif dengan pertumbuhan rata-rata 8,8% per tahun sejak tahun 1980.
Perkembangan teknologi budidaya
intensif disinyalir ikut memberi
kontribusi terhadap kerusakan lingkungan, karena proses budidaya menghasilkan limbah yang bersumber dari pakan yang tidak termakan dan sisa metabolisme.
Penggunaan lahan, air, konversi hutan
mangrove, berkurangnya biodeversity dan penggunaan energi fosil menjadi perhatian dalam kegiatan usaha budidaya(Diana, 2009).
Untuk mengurangi dampak negatif limbah budidaya terhadap
lingkungan, dapat dilakukan
dengan sistem zero exchange water sehingga dapat mengurangi resiko pencemaran oleh limbah budidaya (Crab, et al. 2009).
Pengendalian jumlah ammonia dapat
dilakukan dengan penerapan teknologi
bioflok (Avnimelech, 1999).
Bioflok terbentuk pada kondisi aerob
sehingga konsentrasi oksigen terlarut harus selalu terpenuhi, dibutuhkan asupan energi listrik yang cukup untuk menggerakan kincir air agar proses pencampuran air dapat mempertahan-kan suspensi flok mikroba dan
mengkondisikan proses-proses aerobik
dalam perairan tambak berjalan optimal.
Ebeling et al (2006) menjelaskan bahwa
untuk setiap gram nitrogen amonium yang diubah menjadi biomassa mikroba
heterotrofik membutuhkan oksigen terlarut sebesar 4,71 g, alkalinitas 3,57 g dan 15,17 g karbohidrat, dan akan menghasilkan 8,07 g biomassa mikroba serta 9,65 g karbon dioksida. Sedangkan Folke (1988) menjelaskan dalam budidaya intensif, pemberian pakan dan teknik pemeliharaan kualitas air dengan sistem tertutup dan pergantian air terbatas, membuka peluang penggunaan energi tinggi dan menghasilkan emisi gas rumah kaca yang signifikan.
Roy dan Knowles (1995) mengkritisi bahwa teknologi bioflok hanya mengukur konversi TAN (total ammonia nitrogen) menjadi nitrit, tetapi tidak memper-hitungkan konsumsi O2 yang dibutuhkan untuk proses aerobik oleh bakteri dalam proses mengubah nitrit menjadi nitrat. Teknik bioflok dapat menyebabkan masalah lingkungan lain yang berkaitan dengan akumulasi nitrat (Mook, et al, 2012).
Bunting dan Pretty (2007) mengungkap-kan dalam hal penggunaan energi, jejak karbon pada kegiatan budidaya meliputi penggunaan langsung, seperti konsumsi bahan bakar fosil dan konsumsi tidak langsung seperti energi listrik. Klaim ramah lingkungan teknologi bioflok masih terbatas padaberkurangnya dampak lingkungan perairan, seperti pencemaran bahan organik, penyebaran patogen dan efisiensi penggunaan lahan dan air, sementara input energi, kebutuhan bahan dan peralatan
lainnya dalam penerapan teknologi bioflok juga berpotensi menyumbang dampak lingkungan.
Penilaian dampak lingkungan dengan metode life cycle assesment (LCA) dapat digunakan untuk mengidentifikasi komponen-komponen yang memberi kontribusi dampak terhadap kerusakan lingkungan. Hasil kajian LCA juga dapat digunakan untuk merumuskan langkah perbaikan dan mengurangi dampak lingkungan sebuah kegiatan produksi maupun jasa.
Tujuan penelitian ini adalah menganalisis aspek lingkungan penerapan teknologi bioflok pada kegiatan budidaya
udang vaname dan menentukan strategi
mengurangi dampak lingkungan dari
penerapan teknologi tersebut.









No comments:
Post a Comment